Nilai kebudayaan remaja antara lain adalah santai, bebas dan cenderung pada hal-hal yang informal dan mencari kesenangan, oleh karena itu semua hal yang kurang menyenangkan dihindari. Disamping mencari kesenangan, kelompok sebaya atau “peer group” adalah penting dalam kehidupan seorang remaja, sehingga bagi seorang remaja perlu mempunyai kelompok teman sendiri dalam pergaulan. Masa pubertas merupakan tahap permulaan perkembangan perasaan sosial. Pada masa ini timbul keinginan remaja untuk mempunyai teman akrab dan sikap bersatu dengan teman-temannya, sedangkan terhadap orang dewasa mereka menjauhkan diri. “Peer culture” ini berpengaruh sekali selama masa remaja sehingga nilai-nilai kelompok sebaya mempengaruhi kelakuan mereka. Seorang remaja membutuhkan dukungan dan konsensus dari kelompok sebayanya. Dalam hal ini setiap penyimpangan nilai dan norma kelompok akan mendapat celaan dari kelompoknya, karena hubungan antara remaja dan kelompoknya bersifat solider dan setia kawan. Pada umumnya para remaja atas kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan persamaan dalam minat, kesenangan atau faktor lain.
Pemahaman perilaku politik (Political Behavior)
yaitu perilaku politik dapat dinyatakan sebagai keseluruan tingkah laku aktor
poltik dan warga negara yang telah saling memiliki hubungan antara pemerintah
dan masyarakat, antara lembaga-lembaga pemerintah, dan antara kelompok
masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksanaan, dan penegakan keputusan
politik. Sedangkan menurut Almond dan Verba yang dimaksud budaya politik
(Political Culture) merupakan suatu sikap orientasi yang khas warga negara
terhadap sitem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan
warga negara yang ada di dalam sistem itu. Warga negara senantiasa
mengidentifikasi diri mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan
berdasarkan orientasi yang mereka miliki (Budiyanto, 2004: 103).
Dampak yang didapat dari pengalaman sebagai
pemilih pemula dalam Pilkada (pengaruh kuat yang mendatangkan akibat negatif
atau positif dari pengalaman yang telah didapatkannya) diukur menggunakan
pernyataan-pernyataan seperti: “saya tidak berminat ikut-ikutan dalam pemilihan
Pilkada”, “setelah ikut Pilkada saya tidak merasa mendapatkan pembelajaran
politik”, “ikut Pilkada biasa-biasa saja”, “saya jadi bertambah paham tentang
berpolitik setelah ikut Pilkada”, “saya akan ajak teman untuk ikut Pilkada
karena berguna untuk masa depan”, “lebih baik belajar politik di sekolah/di kampus saja
seperti dalam pemilihan ketua OSIS/ketua BEM”, “saya jadi ragu apakah aspirasi saya
untuk memilih dapat direalisasikan oleh pemenang Pilkada”. Indikator dampak
yang didapat dari pengalaman sebagai pemilih pemula dalam Pilkada (pengaruh
kuat yang mendatangkan akibat negatif atau positif dari pengalaman yang telah
didapatkannya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar