Pages

Minggu, 13 Desember 2015

TIPE – TIPE MAHASISWA FISIP



Fisip UNIB - Setelah mengetahui tentang panduan untuk memilih mata kuliah. Dan agar tidak tersesat ketika telah menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (Fisip). Sekarang saat mengetahui tipe-tipe mahasiswa Fisip masa kini. Yang mempunyai pengklompokan sendiri-sendiri. “Membuat komunitas-komunitas yang tak jarang bikin suasana memanas. Karena belum puas oleh segala aktifitas” ujar juanda, tokoh mahasiswa Fisip.
Nah berikut ini beberapa pengelompokan mahasiswa Fisip berdasar outfit yang biasa mereka pakai. Pertama; Mahasiswa Kutu Buku, pakaian yang di kenakan para mahasiswa kutu buku biasanya tergolong sederhana. Cukup kemeja kotak-kotak dua warna, celana jin atau celana kain dan sepatu yang cukup nyaman. Kedua;Mahasiswa Pecinta Alam, yang biasa di kenal dengan mapala merupakan segelintir mahasiswa elite. Kenapa? Kerena jumlah mereka sedikit dan seleksinya cukup ketat.
Ketiga; Mahasiswa Agamis, mahasisawa tipe ini semakin lama semakin banyak. Entah karena kian banyak yang sadar kalau kiamat sudah dekat atau karena “recruitment” yang mereka lakukan semakin sukses. Mahasiswa agamis ini sangat mudah di kenali. Yang laki-laki biasanya memakai baju koko dengan ukuran kebesaran. Sementara yang perempuan biasanya mengenakan jilbab panjang yang menutupi hingga dada.
Keempat;Mahasiswa Gahol, pernah ketemu segerombolan mahasiswa atau mahasiswi yang suka nongkrong di kantin sambil tertawa cekikikan dengan rokok mengepul sepanjang waktu. Biasanya meja mereka penuh dengan gelas kosong bekas minumun, baik ringan maupun berat. Nah mahasiswa seperti ini termasuk golongan mahasiswa gahol.
Ketika sudah mengetahui tentang mahasiswa Fisip dan tipe-tipenya. Sekarang tinggal kita yang memilah dan memilih untuk memosisikan diri ketika menjadi mahasiswa. Tim Akademik Bercerita Bentang Pustaka telah menyadarkan kita semua tentang kehidupan mahasiswa. Sehingga kita dapat menyimpulkan mahasiswa itu bagaimana, saat ketika kita duduk di bangku kuliah.

Jumat, 11 Desember 2015

Remaja sebagai Pemilih Pemula dalam Pilkada





Nilai kebudayaan remaja antara lain adalah santai, bebas dan cenderung pada hal-hal yang informal dan mencari kesenangan, oleh karena itu semua hal yang kurang menyenangkan dihindari. Disamping mencari kesenangan, kelompok sebaya atau “peer group” adalah penting dalam kehidupan seorang remaja, sehingga bagi seorang remaja perlu mempunyai kelompok teman sendiri dalam pergaulan. Masa pubertas merupakan tahap permulaan perkembangan perasaan sosial. Pada masa ini timbul keinginan remaja untuk mempunyai teman akrab dan sikap bersatu dengan teman-temannya, sedangkan terhadap orang dewasa mereka menjauhkan diri. “Peer culture” ini berpengaruh sekali selama masa remaja sehingga nilai-nilai kelompok sebaya mempengaruhi kelakuan mereka. Seorang remaja membutuhkan dukungan dan konsensus dari kelompok sebayanya. Dalam hal ini setiap penyimpangan nilai dan norma kelompok akan mendapat celaan dari kelompoknya, karena hubungan antara remaja dan kelompoknya bersifat solider dan setia kawan. Pada umumnya para remaja atas kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan persamaan dalam minat, kesenangan atau faktor lain.
          Pemahaman perilaku politik (Political Behavior) yaitu perilaku politik dapat dinyatakan sebagai keseluruan tingkah laku aktor poltik dan warga negara yang telah saling memiliki hubungan antara pemerintah dan masyarakat, antara lembaga-lembaga pemerintah, dan antara kelompok masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksanaan, dan penegakan keputusan politik. Sedangkan menurut Almond dan Verba yang dimaksud budaya politik (Political Culture) merupakan suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sitem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu. Warga negara senantiasa mengidentifikasi diri mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki (Budiyanto, 2004: 103).


            Dampak yang didapat dari pengalaman sebagai pemilih pemula dalam Pilkada (pengaruh kuat yang mendatangkan akibat negatif atau positif dari pengalaman yang telah didapatkannya) diukur menggunakan pernyataan-pernyataan seperti: “saya tidak berminat ikut-ikutan dalam pemilihan Pilkada”, “setelah ikut Pilkada saya tidak merasa mendapatkan pembelajaran politik”, “ikut Pilkada biasa-biasa saja”, “saya jadi bertambah paham tentang berpolitik setelah ikut Pilkada”, “saya akan ajak teman untuk ikut Pilkada karena berguna untuk masa depan”, “lebih baik belajar politik di sekolah/di kampus saja seperti dalam pemilihan ketua OSIS/ketua BEM”, “saya jadi ragu apakah aspirasi saya untuk memilih dapat direalisasikan oleh pemenang Pilkada”. Indikator dampak yang didapat dari pengalaman sebagai pemilih pemula dalam Pilkada (pengaruh kuat yang mendatangkan akibat negatif atau positif dari pengalaman yang telah didapatkannya)